Proses Pembentukan Minyak Bumi Menurut Konsep Geosains

Posted on

Proses pembentukan minyak bumi jika dilihat dari konsep geosains memang sangat menarik untuk dibahas. Sebab geosains adalah ilmu yang memang ditujukan untuk mempelajari tentang semua fenomena yang terjadi di bumi. Ilmu ini menekankan interaksi atau hubungan yang terjadi antara manusia dengan alam sekitarnya baik melalui fenomena fisis atau prosesnya. Melalui ilmu geosains, Anda bisa mengetahui mekanisme seperti apa yang terjadi di dalam atmosfer bumi. Dimana semua mekanisme tersebut bisa dilihat dari berbagai sudut pandang ilmu mulai dari geologi, meteorologi, klimatologi dan lain sebagainya.

Proses pembentukan minyak bumi terjadi karena adanya hidrokarbon dalam jumlah tertentu yang dicampur menggunakan mineral khusus seperti belerang pada kondisi yang ekstrem. Banyak ilmuan yang membuktikan bahwa ternyata, lahan minyak yang ada selama ini dihasilkan dari tumbuhan kecil dan sisa-sisa hewan yang tertimbun selama ratusan juta tahun lamanya di dasar laut bersamaan dengan miliaran ton pasir dan lumpur. Ketika hewan laut dan tanaman mati, maka mereka akan masuk ke dalam laut dan tenggelam hingga akhirnya mengendap di dasar laut. Akibatnya, terjadi proses penghancuran (pembusukan) lalu tercampur dengan lumpur dan pasir. Proses inilah yang dimaksud sebagai proses pembentukan minyak bumi.

Baca juga: Tsunami di Samudera Hindia

Dalam proses penguraian tersebut, mikroorganisme akan membersihkan tubuh organiseme dari sisa-sisa bahan kimia yang tertinggal. Unsur yang masih tertinggal hanyalah hidrogen dan karbon. Perlu diketahui bahwa oksigen tidak bisa mengurai atau membusukan organisme yang sudah mati secara sempurna di dasar laut. Jadi yang tertinggal hanyalah hidrokarbon yang merupakan bahan utama dalam pembuatan minyak bumi. Proses pembentukan minyak bumi berkaitan erat dengan proses dekomposisi yang kemudian tertutupi dengan lumpur dan lapisan pasir.

proses pembentukan minyak bumi

Untuk bisa menghasilkan massa yang besar, proses dekomposisi (penguburan) ini membutuhkan waktu hingga jutaan tahun lamanya. Dimana penumpukan lapisan pada proses pembentukan minyak bumi menggunakan sistem selang-seling. Karena prosesnya yang lama itulah kenapa minyak bumi masuk dalam kategori sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Dalam konsep geosains, SDA yang tidak dapat diperbaharui atau non renewable memang menjadi fokus banyak orang. Sebab kebiasaan manusia yang selama ini sangat tergantung dengan minyak bumi dapat menyebabkan adanya keterbatasan SDA.

Proses pembentukan minyak bumi dalam konsep geosains juga menjelaskan tentang adanya kenaikan berat pasir yang beriringan dengan kedalaman sedimen serta tekanan massa. Massa yang semakin di tekan pada akhirnya akan memadatkannya menjadi beberapa lapisan yang sangat tipis. Jadi jangan heran jika kedalaman lapisan pengurai dalam bumi yang terkubur bisa mencapai kurang lebih 10.000 kaki dari panas alami bumi. Seiring dengan berjalannya waktu, minyak bumi akan mulai terbentuk.

Baca juga: Daerah Penghasil Batubara di Indonesia

Inilah Proses Pembentukkan Minyak Bumi dalam Konsep Geosains
Seperti yang diketahui bahwa geosains adalah ilmu yang berkaitan dengan kebumian. Jadi wajar saja jika minyak dan gas masuk dalam aspek penting yang dijadikan sebagai pembahasan. Gas dan minyak berasal dari bahan organik di dasar laut yang diendapkan menjadi sedimen lalu dipecah dan didekomposisi selama jutaan tahun. Sekedar informasi, sebagian besar minyak dan juga gas berasal dari lapisan tanah yang ada di beberapa ribu mdpl. Pada proses pembentukan minyak bumi, tanah ini masuk dalam kategori tanah liat berwarna hitam. Tanah liat hitam sendiri merupakan batuan sumber yang memiliki banyak sekali residu organik dengan jumlah signifikan. Liat tersebut kemudian diendapkan selama kurang lebih 150 juta tahun lalu di dalam dasar laut. Melihat prosesnya yang berkaitan dengan oseanografi (laut) dan kebumian (lapisan atmosefer), tidak mengherankan jika proses pembentukan minyak bumi sangat berkaitan erat dengan geosains. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini adalah informasi lengkap mengenai penjelasan proses pembentukan minyak bumi jika dilihat dari konsep geosains.

1. Fitoplankton mikroskopis mati
Proses pembentukan minyak bumi di mulai ketika fitoplankton mikroskopis mati, lalu tenggelam secara perlahan ke dasar laut. Kemudian terakumulasi menjadi jumlah yang banyak dalam sedimen yang bebas oksigen. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka terendap dalam lapisan yang sangat dalam lalu mengalami serangkaian proses konversi kimiawi dalam jangka waktu yang sangat lama. Proses dekomposisi bakteri yang lama menyebabkan adanya tumpukan endapan yang semakin menebal. Proses pembentukan minyak bumi inilah yang akhirnya menyebabkan terbentuknya senyawa hidrokarbon gas dan cair yang dibutuhkan untuk proses pembentukkan minyak bumi.

Baca juga: Tsunami di Samudera Atlantik

2. Anaerobik
Seperti yang sempat disinggung bahwa di dasar laut, bakteri tidak bisa mengurai dengan maksimal. Hal inilah yang membuat proses pembentukan minyak bumi menghasilkan produk dekomposisi anaerobik organik yang dikenal dengan sebutan kerogen. Dalam tekanan dan suhu yang tinggi, minyak dan gas secara perlahan akhirnya dihasilkan. Minyak dihasilkan ketika suhu kerogen berada pada kisaran 60 hingga 120 ° C. Sedangkan gas, dihasilkan saat suhunya lebih tinggi lagi.

3. Migrasi
Proses pembentukan minyak bumi berlanjut ketika senyawa yang dihasilkan melalui proses dekomposisi anaerobik yang dihasilkan merembes keluar dari lapisan sumber batu. Massa hidrokarbon yang diketahui lebih ringan dibandingkan dengan air. Oleh karena itu, gas dan minyak akhirnya bermigrasi menuju atas batuan pada bantalan berpori. Perlu diketahui bahwa proses migrasi ini membutuhkan waktu sampai dengan ribuan tahun. Selain itu, imigrasi ini bisa meluas hingga puluhan kilometer sampai dihentikan oleh adanya lapisan batuan yang tidak beraturan. Tahap imigrasi dalam proses pembentukan minyak bumi ini juga dapat meluas apabila terdapat kebocoran dari gas atau minyak ke laut.

Dalam proses pembentukan minyak bumi, batuan reservoir selalu berpori dan jenuh dengan gas, minyak dan air sehingga menghasilkan berbagai kombinasi. Pada beberapa kasus, ada sebagian besar minyak yang terjebak di dalam batuan reservoir. Dimana batuan ini tersimpan di dalam delta yang diketahui terbentuk oleh sungai-sungai yang selama ini mengalir ke laut. Tak hanya itu, batuan kedap air juga dibutuhkan untuk menghentikan proses lepas landas minyak dari batuan reservoir. Sekedar informasi, batuan kedap air ini dikenal dengan sebutan cap rock.

4. Minyak terkumpul
Proses pembentukan minyak bumi akhirnya berada pada tahapan dimana minyak terkumpul karena terjebak pada konfigurasi batuan reservoir. Apabila terdapat kombinasi yang sempurna antara batuan induk, batuan reservoir, batuan sumber, dan juga jebakan, bisa dipastikan jika jumlah deposit gas dan minyak dalam wilayah tersebut sangatlah besar. Pada tahapan ini, proses pembentukan minyak bumi akan dibuat menjadi serpihan yang kemudian membentuk minyak. Minyak mentah selanjutnya akan bertransformasi menjadi batuan baru yang disebut dengan nama batuan reservoir. Minyak ini akan tetap terjebak sampai manusia bisa mengaksesnya menggunakan cara tertentu.

Baca juga: Penyebab Utama Terjadinya Tsunami

Melihat proses pembentukan minyak bumi yang sangat lama, maka tentu saja minyak bumi adalah sumber daya non renewable yang harus tetap terjaga ketersediaannya. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk proses pembentukan minyak bumi berkisar 1 abad.

Jangan sampai anak cucu nanti tidak memiliki kesempatan untuk melihat dan memanfaatkan minyak bumi. Melakukan penghematan minyak bumi adalah solusi terbaik untuk menanggulangi keterbatasan minyak bumi saat ini. Sekian informasi terkait dengan proses pembentukan minyak bumi dalam konsep geosains. Semoga ulasan di atas bisa menambah wawasan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *