Mengenal Patahan Lembang dari Sisi Tektonisme

Posted on

Bagi Anda yang berada di Jawa Barat, khususnya Bandung tentu mengetahui tentang patahan lembang. Lembang memang memiliki kekayaan alam yang sangat indah dan menakjubkan. Namun tahukah Anda bahwa disana, terdapat patahan yang harus diwaspadai oleh semua masyarakat Bandung. Sebab patahan tersebut dapat memicu bencana gempa bumi.

Ancaman tentang patahan lembang kembali ramai setelah terjadi gempa bumi di Kabupaten Bandung tepatnya di wilayah Kampung Muril Rahayu, Jambudipa, Cisarua, pada bulan Agustus serta September 2011. Walaupun hanya sebesar 3,3 skala ritcher, bencana ini sudah merusak 384 rumah warga. Hal ini tentunya memberikan rasa trauma tersendiri kepada masyarakat Bandung.

Baca juga: Apa itu Geosains ?

Mengenal Lebih Dalam Tentang Patahan Lembang
Banyak ahli geologi menjelaskan bahwa gempa tersebut terjadi di patahan lembang bagian ujung sebelah barat yaitu di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua. Sementara permukiman warga yang ada di kawasan Kampung Muril Rahayu berada tepat di tebing patahan tersebut sehingga terkena gempa paling besar.

Dengan terjadinya gempa tersebut, tentu saja banyak ahli yang semakin yakin bahwa patahan lembang adalah sesar aktif yang bisa mengakibatkan gempa kapan saja. Sebelum membahas tentang patahan lembang, ada baiknya jika Anda memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan patahan.

patahan lembang

Sekedar informasi, patahan adalah bentuk-bentuk pada permukaan bumi yang terbentuk karena adanya aktivitas lempeng di dalam bumi. Dalam hal ini, bentuk-bentuk permukaan bumi tersebut tidak sama. Bentuk patahan diantaranya adalah lembah, pegunungan, gunung, perbukitan, bukit, jurang dan lainnya. Di bawah ini adalah hal-hal tentang patahan lembang yang harus Anda ketahui.

1. Daratannya yang indah
Patahan lembang memang membuat wilayah ini terlihat sangat indah dan menarik. Patahan juga bisa terjadi akibat adanya tenaga endogen yakni tenaga yang asalnya adalah dari dalam bumi. Patahan lembang berada di Bandung bagian utara. Dari pusat kota, jaraknya hanya 10 km. Patahan atau sesar ini memiliki panjang 22 km dari arah timur ke barat. Patahan lembang melalui Maribaya di bagian timur serta Cisarua di bagian barat. Perlu Anda ketahui bahwa patahan yang ada di Lembang ini memiliki bentuk escarpment.

2. Menghilang pada sisi utara Padalarang
Patahan lembang menghilang pada sisi utara Padalarang. Besarnya pergeseran pada sesar Lembang bisa terlihat dari tinggi tebing. Sesar Lembang memang sudah terbentuk kurang lebih 100.000 tahun yang lalu untuk bagian timurnya. Patahan ini muncul bersamaan dengan terbentuknya formasi akibat dari letusan cataclismic.

Sedangkan untuk bagian barat, sesar ini terbentuk sekitar 27.000 tahun lalu. Dari segi geosains, umur patahan lembang memang bisa diketahui dari adanya deposit piroklastik yang terlihat di lokasi patahan. Patahan lembang jika diperhatikan dari Gunung Batu memiliki tipe Andesit.

3. Patahan Aktif
Berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli, patahan lembang adalah patahan aktif. Rata-rata, sesar Lembang mengalami pergeseran mencapai 3 mm setiap tahunnya. Apabila terjadi gempa, maka area pemukiman yang ada di Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Bandung Barat akan terkena dampaknya.

Jika dilihat secara geologi, Bandung dibedakan menjadi empat zonasi. Pertama adalah zona BC yakni batuan beku muda yang di dalamnya terdiri dari lava, tuf, tangkuban perahu dan breksi Malabar. Kedua zona B yaitu batuan keras yang tersusun atas batu gunung api, lava gunung api, dan breksi. Ketiga zona D yakni sedimen Lacustrine dan terakhir zona CD yaitu sedimen Miosen yang didalamnya tersusun atas breksi, tuf, konglomerat dan batu pasir lava.

Baca juga: Proses Pembentukan Batubara

Dari zona-zona tersebut bisa diketahui bahwa Bandung memiliki ancaman gempa yang cukup besar. Apalagi jika patahan lembang tersebut bergerak. Maka bisa dipastikan bahwa semua cekungan yang ada di Bandung akan mendapatkan dampak akibat dari getaran tersebut. Kawasan Bandung memang memiliki banyak sedimen. Apabila sedimen lunak yang berperan dalam penyusunan cekungan Bandung terkoyak akibat gerakan sesar, maka kota Bandung akan mengalami bencana yang besar.

LIPI sendiri menjelaskan bahwa saat ini sudah tercatat 290 titik patahan aktif yang ada di patahan lembang. Dimana patahantersebut berpotensi mengancam. Pihak pemerintah sendiri memang melakukan mitigasi bencana khusus untuk wilayah sesar Lembang yang harus diantisipasi.

Patahan Lembang dan Tektonisme
Patahan lembang memang tidak bisa dipisahkan dari tektonisme. Tektonisme sendiri merupakan perubahan letak yang terjadi pada lapisan kulit bumi akibat adanya tenaga endogen baik arah vertikal maupun horizontal. patahan lembang memang terlihat sangat jelas di Gunung Batu atau daerah tinggi Cibural.

Patahan di Lembang berbentuk perbukitan alami yang sangat indah. Pada dasarnya, patahan lembang termasuk dalam golongan sesar yang normal. Dimana blok bagian selatan naik terangkat, sedangkan blok Lembang sebelah utara justru menurun ambles. Kondisi inilah yang kemudian membentuk bidang geser sesar atau patahan yang miring ke arah utara secara terjal. Bidang ini memanjang sampai dengan 22 km lebih.

Banyak ahli ilmu kebumian yang khawatir jika patahan lembang kembali aktif. Tidak bisa dibayangkan, seberapa besar gempa bumi yang akan terjadi apabila gerak-gerik tektonik membuat sesar atau patahan tergeser.

Jika dilihat secara geografis, patahan lembang terbagi tepat di Jalan Bandung-Lembang. Jika dilihat dari citra satelit, kelurusan Sesar Lembang pada arah hampir ke barat hingga timur di perbukitan Dago. Tak hanya itu, patahan juga terlihat di sekitar Lembang kota sampai dengan lereng selatan deretan Gunung Tangkubanparahu, Gunung Burangrang dan Gunung Bukittunggul.

Selain itu, kelurusan patahan lembang juga terlihat menerus menuju Sungai Cimeta yang ada di Baratlaut Padalarang. Sekedar informasi, di Padalarang patahan lembang saling bertemu dengan patahan Sesar Cimandiri. Dimana tracenya diperkirakan akan menerus menuju arah timur laut serta masih dilalui di Gunung Tangkubanparahu sampai dengan Tambakan, Subang.

Berdasarkan literatur terkait dengan penelitian patahan lembang, diketahui bahwa patahan yang ada di Lembang ini terbentuk dari adanya aktivitas volcano-tektonik yang terjadi di Kompleks Gunung Sunda pada ratusan tahun lalu. Tak hanya itu, banyak pula para ahli yang menganalisa bahwa kemungkinan jika terjadi gempa patahan Cimandiri dan merambat ke patahan lembang maka akan tumbul bencana gempa dengan kekuatan mencapai 6,9 sampai dengan 7,5 SR. Sebelum tahun 2000, gelombang gempa di wilayah Bandung tergolong jarang. Tapi setelah tahun 2000, setidaknya ada beberapa kali gelombang gempa yang terjadi di wilayah Cekungan Bandung.

Baca juga: Dahsyatnya Tsunami di Samudera Hindia

Walaupun biasanya, gelombang gempa tersebut memang berasal dari wilayah luar Bandung. Banyak ahli yang mengira bahwa perubahan struktur dari kerak bumi yang ada di bawah Bandung mengakibatkan seringnya terjadi guncangan di kota ini.

Pada dasarnya, perambatan gempa bumi yang terjadi di dalam kerak bumi berkaitan dengan struktur dan berat jenis benda yang dilalui. Berdasarkan kasus gempa bumi besar yang ada di Indonesia dan dunia, diketahui bahwa kerusakan terbesar akibat bencana gempa bumi terjadi di wilayah yang memiliki jenis batuan muda, contohnya saja endapan aluvial. Hubungannya dengan patahan lembang adalah karena wilayah daratan Bandung merupakan endapan aluvial.

Jadi tidak mengherankan jika gerakan akibat patahan lembang atau gempa kiriman dari kawasan lain bisa menyebabkan daratan Bandung retak dan tercabik-cabik akibat tektonik. Maka dari itu, pihak pemerintah dan masyarakat diharapkan bisa selalu waspada terhadap patahan lembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *